Warisan Sastra Intertestamental Yahudi bagi Doktrin Trinitas Surat Efesus PDF Free Download

1 / 17
2 views17 pages

Warisan Sastra Intertestamental Yahudi bagi Doktrin Trinitas Surat Efesus PDF Free Download

Warisan Sastra Intertestamental Yahudi bagi Doktrin Trinitas Surat Efesus PDF free Download. Think more deeply and widely.

Copyright© 2024; Logon Zoes, e-ISSN 2745-3766 | 30
Volume 7, No 1, Pebruari 2024 (30-46)
e-ISSN 2745-3766 https://e-journal.stteriksontritt.ac.id/index.php/logon
Warisan Sastra Intertestamental Yahudi bagi Doktrin Trinitas Surat
Efesus
Paulus Dimas Prabowo
Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Samarinda
paul110491@gmail.com
Abstract: The doctrine of the Trinity in the New Testament, especially in Paul's writings, is often
thought to have a legacy from Greek culture. However, most of the New Testament writers, including
Paul, were first century Jews with Second Temple Period Judaism. Therefore, observations of the
doctrine of the Trinity need to look at Jewish intertestamenal literature, including the Apocrypha,
Pseudepigrapha, and Qumran Texts which project the thoughts of the Second Temple Period of
Judaism. Through thematic and comparative analysis methods, it was found that intertestamental
Jewish literature inherited the doctrine of the Trinity in Ephesians in the form of the concept of God
as Father, conveying the people as children of God (adopted), the Messiah as Lord and Son of God,
the role of Messiah King and Messiah Priest, The dead Messiah, as well as the concept of the Holy
Spirit dwelling within the community, provided the impetus for prophecy, as well as being a source
of knowledge, guide and protector. Finally, it can be confirmed that Jewish influence is far greater
than Greek influence in the doctrine of the Trinity.
Keywords: Ephesians, intertestamental literature, Trinity
Abstrak: Doktrin Trinitas di dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam tulisan-tulisan Paulus,
sering dianggap memiliki warisan dari budaya Yunani. Namun kebanyakan penulis kitab
Perjanjian Baru, termasuk Paulus, merupakan orang-orang Yahudi abad pertama dengan
pandangan Second Temple Periode Judaism. Oleh sebab itu, pengamatan terhadap doktrin Trinitas
perlu melihat sastra intertestamental Yahudi, meliputi Apokrifa, Pseudepigrafa, dan Teks Qumran
yang memproyeksikan pemikiran Second Temple Periode Judaism. Melalui metode analisis
tematik dan komparasi, ditemukan bahwa sastra intertestamental Yahudi memberikan warisan
terhadap doktrin Trinitas di dalam Surat Efesus berupa konsep Allah sebagai Bapa, pengangkatan
umat sebagai anak Allah (adopsi), Mesias sebagai Tuhan dan Anak Allah, peran Mesias Raja dan
Mesias Imam, Mesias yang mati, serta konsep Roh Kudus yang berdiam di dalam komunitas,
memberi dorongan nubuat, serta sebagai sumber pengetahuan, pembimbing dan pelindung.
Akhirnya dapat ditegaskan, bahwa bahwa pengaruh Yahudi jauh lebih besar daripada pengaruh
Yunani dalam doktrin Trinitas.
Kata kunci: sastra intertestamental, surat Efesus, Trinitas
PENDAHULUAN
Trinitas adalah doktrin Kristen mengenai Allah yang unik, dibandingkan dengan
kepercayaan lainnya. Di dalamnya berdiri kokoh sebuah ajaran yang mengakui bahwa
Allah yang Esa menyatakan Diri dalam Tiga Pribadi yang berbeda tetapi sehakikat dan
setara, yakni Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Sejarah telah mempertontonkan bagaimana
doktrin tersebut diperdebatkan, dilawan, bahkan dicemooh oleh kelompok tertentu.
Upaya untuk melawannya tidak kalah sengit dengan upaya untuk membela dan
Paulus D. Prabowo: Warisan Sastra Intertestamental Yahudi
Copyright© 2024; Logon Zoes, e-ISSN 2745-3766 | 31
membuktikannya. Bahkan hingga saat ini, doktrin tersebut terus menjadi bahan diskusi
baik dari kalangan non-Kristen maupun kalangan Kristen sendiri.
Salah satu hal yang menjadi bahan diskusi adalah: sumber apa yang memengaruhi
keberadaan ajaran Trinitas di dalam kekristenan mula-mula? Pertanyaan yang digulirkan
ini tentu tidak dimaksudkan untuk menggiring orang percaya agar meragukan wahyu
dan pengilhaman mengenai doktrin Trinitas di dalam Alkitab yang innerant dalam teks
aslinya. Namun sejarah, budaya, sastra dan pemikiran yang melatarbelakangi para
penulis kitab patut dipertimbangkan untuk memahami ajaran Alkitab, termasuk Trinitas.
Perihal sumber yang memengaruhi pengembangan doktrin Trinitas di dalam
kekristenan, Christopher Stead mengatakan: “Akhirnya kita harus bertanya, apakah
perkembangan teologi Tritunggal yang dilakukan Gereja dipengaruhi oleh
perkembangan paralel dalam tradisi filsafat Yunani?
1
Menurutnya ada dua alasan untuk
mempertimbangkan hal tersebut. Pertama, yang menyukai pola triadik bukanlah orang
Yahudi tetapi orang Yunani dan contohnya ialah tulisan Plato berjudul Letter II yang
menekankan pentingnya doktrin tiga tatanan keberadaan; kedua, orang Yunanilah yang
mengembangkan trinitas secara teologis dalam jalurnya masing-masing, misalnya saja
Plotinus (abad 3), Numenius (abad 2), dan Moderatus (abad 1).
2
Santrac juga setuju
bahwa rumusan doktrin Tritunggal menggunakan kerangka konseptual filsafat Yunani;
metode dan isi dogmatisnya didasarkan pada kerangka teori filosofis Yunani.
3
Quesinberry juga berpendapat bahwa ajaran Trinitas dalam Efesus 1:3-14 ditulis oleh
Paulus dengan bentuk hellenis, sebab Paulus memiliki sejarah hellenistik dan gaya
berpikir Yunani klasik.
4
Pemikiran Yunani dianggap sebagai sumber yang memberi
warisan terhadap doktrin Trinitas, baik dalam hal bentuk, metode, maupun isi.
Namun penafsir maupun pembaca tidak boleh melupakan bahwa kebanyakan
penulis di Perjanjian Baru adalah orang-orang berlatarbelakang Yahudi dari periode Bait
Suci Kedua. Misalnya saja Paulus, penulis surat terbanyak dalam Perjanjian Baru. Paulus
memiliki latar belakang Second Temple Periode Judaism (Yudaisme Bait Suci Kedua).
5
Second Temple Periode Judaism adalah sebutan umum untuk tradisi Yahudi yang
berkembang antara kembalinya orang-orang buangan dari Babel dan pembangunan
kembali Bait Suci Yerusalem di bawah perlindungan Persia dari tahun 538 hingga 515
SM, dan penghancuran Bait Suci oleh Romawi pada tahun 70 M.
6
Periode
intertestamental, yakni jeda empat ratus tahun antara Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru, masuk dalam rentang waktu tersebut dan di dalamnya banyak bermunculan sastra
intertestamental Yahudi. Helyer pun berhasil menemukan bahwa Yesus dan para murid-
1
Christopher Stead, “The Origins of the Doctrine of the Trinity, 2,” Theology 77, no. 653
(1974): 582.
2
Stead, 583.
3
Aleksandar S. Santrac, “Three I Know Not What: The Influence of Greek Philosophy on the
Doctrine of Trinity,” In Die Skriflig/ In Luce Verbi 47, no. 1 (2013): 7.
4
Kurtes D. Quesinberry, “A Hellenist Form Of Ephesians 1:3-14 Subject-Type Isolation And
Categorization In The Pauline Texts” (Seoul, 2010), 18384.
5
Gabriel Golea, “The New Perspective On Paul: An Objectiveally Or A Real Challenge For
Understanding The Pauline Statements On The Law?” (Cernica, 2011), 2.
6
Annette Yoshiko Reed, “The Modern Invention of ‘Old Testament Pseudepigrapha,’” Journal
of Theological Studies 60, no. 2 (2009): 403.
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya, Vol 7, No 1 (Pebruari 2024)
Copyright© 2024; Logon Zoes, e-ISSN 2745-3766 | 32
Nya juga membaca Kitab Suci Israel melalui kacamata Second Temple Periode Judaism.
7
Oleh sebab itu, seharusnya latar belakang Yahudi perlu lebih dipertimbangkan dalam
memahami tulisan Paulus daripada latar belakang Yunani. Konsep Paulus mengenai
doktrin Trinitas juga perlu mempertimbangkan warisan sastra intertestamental Yahudi.
Surat Efesus dipilih sebagai bahan kajian karena ulasan mengenai Trinitas di
dalamnya cukup kaya, khususnya pasal 1:3-14 yang menyebutkan Bapa, Kristus, dan Roh
Kudus dalam kontek pembahasan dan perikop yang sama. Surat Efesus didesain sebagai
surat edaran (circular letter) supaya dibacakan di Asia Kecil sehingga surat tersebut
bersifat umum (impersonal) dengan tujuan memberi ringkasan pengajaran teologis dan
memperlengkapi kehidupan kristen secara praktis.
8
Darrell Bock menjelaskan, anggapan
ini didasari fakta bahwa naskah Perjanjian Baru tertua seperti Papirus 46, Sinaiticus, dan
Vaticanus tidak mencantumkan frasa ἐν Ἐφέσῳ (di Efesus) pada pendahuluan surat,
bahkan beberapa bapa gereja seperti Origen, Basil, dan Jerome juga tidak mencantumkan
frasa tersebut dalam catatan mereka.
9
Jika demikian faktanya, maka segala ulasan
teologis di dalam surat tersebut merupakan ikhtisar teologi Paulus dalam rangka
mendewasakan gereja-gereja yang berada di Asia Kecil. Sebagai circular letter bagi
banyak gereja, Paulus harus merumuskan pemikiran teologisnya supaya dapat dipahami
oleh jemaat. Bruce menyebut surat Efesus sebagai The Quintessence of Paulinismatau
intisari teologi Paulus.
10
Terasa menarik untuk melihat pemikiran-pemikiran teologis
Paulus yang ia ringkas di dalam surat Efesus dan bagaimana ia meringkasnya, khususnya
mengenai Trinitas dalam lensa Second Temple Periode Judaism.
Terdapat hubungan antara Surat Efesus dengan sastra intertestamental Yahudi.
Barth telah meneliti bahwa ada beberapa tradisi yang termuat dalam surat tersebut, dan
salah satunya berasal dari masa intertestamental Yahudi.
11
Beberapa penelitian
mengenai konsep Trinitas dalam Surat Efesus telah diangkat. Daliman meneliti Trinitas
dalam Efesus 1:3-14 terkait peran Allah Tritunggal dalam keselamatan lalu menemukan
adanya pembagian peran berbeda dari setiap Pribadi; Bapa merencanakan, Kristus
mengerjakan, dan Roh Kudus menjamin eksistensi keselamatan.
12
Wijoyo juga meneliti
Trinitas dan keselamatan dalam Efesus 1:3-14 tetapi menyoroti respon penerimanya,
dan artikel tersebut menemukan bahwa Efesus 1:3-14 mengajarkan kepada orang-
orang percaya agar mensyukuri, meyakini dan memuliakan pekerjaan Allah atas
keselamatan yang Dia kerjakan bagi orang percaya.
13
Sinyangwe meneliti Trinitas dalam
Efesus 2:19-22 untuk mengaitkannya dengan eklesiologi, dan menemukan adanya
7
Larry Helyer, “The Necessity, Problems, And Promise Of Second Temple Judaism For
Discussions Of New Testament Eschatology,” JETS 47, no. 4 (2004): 597.
8
Darrell L. Bock, Ephesians: An Introduction and Commentary (Downers Grove, IL: InterVarsity
Press, 2019), 1; Mark D. Roberts, Ephesians: The Story of God Bible Commentary (Grand Rapids,
Michigan: Zondervan Academic, 2016), 11.
9
Bock, Ephesians: An Introduction and Commentary, 3.
10
F.F. Bruce, “St. Paul in Rome: 4. The Epistle to the Ephesians,” Bulletin of the John Rylands
Library, 1967, 303.
11
Markus Barth, “Traditions in Ephesians,” New Testament Studies 30, no. 1 (1984): 34.
12
Muner Daliman, “Peran Allah Tritunggal Dalam Karya Keselamatan: Sebuah Refleksi
Teologis Efesus 1:3–14,” Immanuel: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 4, no. 1 (2023): 20921.
13
Sigit Wijoyo, “Kemuliaan Karya Keselamatan Allah Tritunggal: Studi Eksposisi Efesus 1:3-
14,” KAPATA: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 1, no. 1 (2020): 4050.
Paulus D. Prabowo: Warisan Sastra Intertestamental Yahudi
Copyright© 2024; Logon Zoes, e-ISSN 2745-3766 | 33
hubungan doktrin trinitas dan eklesiologi, sebab gereja didirikan dan di bawah kendali
Allah Tritunggal.
14
Beberapa penelitian tersebut telah menyoroti aspek yang beragam.
Doktrin Trinitas dalam Surat Efesus telah dibahas meliputi peran, respon pembaca, dan
keterkaitannya dengan gereja. Kebaruan artikel ini terletak pada hal. Pertama, fokus
kajiannya, yakni komparasi dengan sastra intertestamental Yahudi seperti Apokrifa,
Pseudepigrafa, dan teks-teks Qumran. Kedua, cakupan kajiannya, yakni keseluruhan
Surat Efesus. Artikel ini hendak membuktikan bahwa sastra intertestamental Yahudi
memberikan warisan terhadap doktrin Trinitas Paulus dalam Surat Efesus.
METODE
Artikel ini adalah penelitian kualitatif dengan penyajian hasil penelitian secara naratif.
15
Dua macam pendekatan akan dipakai. Pertama, metode analisis tematis, yakni
identifikasi sebuah tema, terkait dengan pola-pola dalam data yang penting atau menarik,
dan menggunakannya untuk membahas penelitian.
16
Pratt menyebut bahwa analisis
tematis adalah salah satu model penelitian biblika yang bisa dipakai, selain analisis
historis analisis dan sastra; analisis tematis sendiri memiliki tiga model yakni teologi
sistematika, pemodelan, dan perhatian pastoral.
17
Model analisis tematis yang dipakai
dalam penelitian ini teologi sistematika, dalam rangka memaparkan pemikiran teologis
Paulus mengenai Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Kedua, metode komparasi, dengan
membandingkan beberapa bagian Surat Efesus dengan teks-teks sastra intertestamental
Yahudi. Obyek yang diteliti adalah Surat Efesus dari Alkitab versi Terjemahan Baru
terbitan LAI dan Alkitab berbahasa Yunani versi NA27 atau dikenal dengan Novum
Testamentum Graece, serta sastra intertestamental Yahudi meliputi Apokrifa,
Pseudepigrafa, dan teks-teks Qumran.
PEMBAHASAN
Hubungan Surat Efesus dengan Sastra Intertestamental Yahudi
Surat Efesus ditulis sekitar tahun 63 M
18
dalam masa Second Temple Judasim yang
berakhir tahun 70 M. Rasul Paulus selaku penulis surat tersebut memiliki latar belakang
sebagai orang Yahudi era Second Temple Judasim. Orang-orang Yahudi pada masa itu,
termasuk Paulus, tidak asing dengan beragam sastra Yahudi pada masa intertestamental.
Implikasinya, pemikiran Paulus secara umum pun dipengaruhi oleh sastra Yahudi
intertestamental, seperti yang umum dimiliki oleh orang-orang Yahudi kala itu. Sebagai
bukti, Paulus kerap memakai kosakata dari sastra intertestamental dalam surat-
suratnya.
19
Hal ini menegaskan bahwa surat-surat Paulus, termasuk Efesus, memiliki
hubungan dengan sastra intertestamental Yahudi.
14
Brian Sinyangwe, “The Trinity and Ecclesiological Foundations: An ExegeticalTheological
Assessment of Ephesians 2:19-22,” Pan-African Journal of Theology 2, no. 2 (2023): 80100.
15
Eko Murdiyanto, Penelitian Kualitatif: Teori Dan Aplikasi Disertai Contoh Proposal
(Yogyakarta: Lembaga Penelitian & PkM UPN ”Veteran” Yogyakarta Press, 2020), 49.
16
Moira Maguire and Brid Delahunt, “Doing a Thematic Analysis: A Practical, Step-by-Step
Guide for Learning and Teaching Scholars.,” AISHE-J 8, no. 3 (2017): 2.
17
Richard Pratt, Ia Berikan Kisah-Nya (Surabaya: Momentum, 2013), 100104.
18
F.J.A Hort, Prolegomena to St Paul’s Epistles to the Romans and the Ephesians (New York:
Cambridge University Press, 2009), 110.
19
Matthew B. Leighton, “‘MOSAIC COVENANT’ AS A POSSIBLE REFERENT FOR ΝΟΜΟΣ IN
PAUL,” Tyndale Bulletin 69, no. 2 (2018): 16181.
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya, Vol 7, No 1 (Pebruari 2024)
Copyright© 2024; Logon Zoes, e-ISSN 2745-3766 | 34
Trinitas dalam Tiga Pribadi
Konsep tentang trinitas dalam Surat Efesus dapat ditemukan di beberapa bagian seperti
1:314; 2:18, 22; 3:1417; 4:46; 5:1820. Bapa, Kristus, dan Roh Kudus (atau Roh)
disebut bersamaan. Uniknya, Trinitas disebut dalam konteks pembahasan yang variatif
baik dalam hal keselamatan, kesatuan, dan spiritualias. Bisa dibilang, konsep trinitas
terlibat dalam keseluruhan hidup orang percaya. Meskipun Paulus tidak sedang menulis
sebuah risalah teologi yang sistematis mengenai Allah, gagasan mengenai Allah dapat
ditemukan di banyak tempat dalam surat Efesus. Namun perlu dicatat bahwa Paulus
memiliki latar belakang sebagai orang Yahudi periode Bait Suci Kedua, sehingga
menafsirkan rasul Paulus dan surat-suratnya, sesuai dengan konteks Yudaisme semasa
ia hidup yakni Second Temple Periode Judaism.
20
Hal ini dilakukan dengan memeriksa
tulisan bersejarah kelompok tersebut. Sastra intertestamenal Yahudi bukan hanya
dokumen keagamaan yang bernilai dan penafsiran Perjanjian Lama paling awal, tetapi
juga sebagai latat belakang Perjanjian Baru.
21
Oleh sebab itu bagian ini akan membahas
ajaran Paulus tentang Trinitas yaitu Bapa, Kristus, dan Roh Kudus dengan
mempertimbangkan beberapa tulisan Yahudi pada periode intertestamental seperti
Apokrifa, Pseudepigrafa, dan teks-teks Qumran (gulungan Laut Mati)
Allah Bapa
Kata πατήρ (Bapa), satu dari tiga Pribadi Trinitas, disebutkan delapan kali oleh Paulus
dalam surat Efesus. Terdapat beberapa hal yang bisa diperhatikan mengenai Bapa.
Pertama, πατήρ (Bapa) dikaitkan dengan θεός (Allah), yakni θεοῦ πατρὸς (1:2, 6:23),
θεὸς κα πατὴρ (1:3, 4:6, 5:20), dan θεὸς ... πατὴρ (1:17). Frasa θεοῦ πατρὸς yang
Paulus pakai terdiri dari dua kata benda genitif yang bisa diterjemahkan Allah Bapa.’
Frasa θεὸς κα πατὴρ dapat dimaknai Allah yang adalah Bapa’
22
sebab konjungsi κα
tidak selalu dipakai untuk menghubungkan dua entitas berbeda. Sedangkan dalam frasa
θεὸς ... πατὴρ, kata πατὴρ dicantumkan untuk mempertegas penyebutan θεὸς dan
bisa dimaknai ‘Allah yaitu Bapa.’ Paulus menyebut Allah sebagai Bapa dalam
teologinya. Perjanjian Lama beberapa kali mengaitkan Allah dengan Bapa, yakni dalam
Keluaran 4:22-23, Ulangan 1:31; 8:5; 14:1; 32:6, Yesaya 43:6; 63:8,16; 64:8, Yeremia
3:4,14,19,22; 31:9,20, Hosea 11:1-4, dan Maleakhi 1:6; 2:10; 3:17. Meski disebut
beberapa kali, ide Allah sebagai Bapa tidak terlalu menonjol dalam Perjanjian Lama.
Namun literatur Yahudi pada masa intertestamen pada abad 1 sebelum Masehi
cukup banyak memuat gagasan tentang Allah sebagai Bapa. Beberapa di antaranya
adalah teks Qumran seperti 4Q379; 4Q392 (4QWorks of God) 6-9 4-7; 4Q502
(4QpapRituel de Mariage) 39 2-3; 4Q511 (4QShirb) 127; 4Q504 (4QDibHama ) 1-2 iii 1-
7; 4Q382 (4QpapParaKings et al.) 104-1-4; 4Q369 (4QPrayer of Enosh) 1 ii 5-10; 4Q372
(4QNarr. and Poetic Comp.b ) 1 14-18; 4Q460 (4QNarrative Work and Prayer) 9 I 2-6;
1QHa 17 (Suk. 9): 29-36, lalu kitab Apokrifa seperti Tobit 13:4; 3 Makabe 5:7, 6:3,8;
20
Golea, “The New Perspective On Paul: An Objectiveally Or A Real Challenge For
Understanding The Pauline Statements On The Law?,” 2.
21
Roger Beckwith, “Intertestamental Judaism, Its Literature and Its Significance,” Themelios
15, no. 3 (1990): 8081.
22
Frederick William Danker, A Greek-English Lexicon Of The New Testament And Other Early
Christian Lietrature (Chicago: The University of Chicago Press, 2000), BibleWorks, v.9.
Paulus D. Prabowo: Warisan Sastra Intertestamental Yahudi
Copyright© 2024; Logon Zoes, e-ISSN 2745-3766 | 35
Sirakh 23:1,4 dan kitab Psudepigrafa seperti Yobel 1:25.
23
Sebagai seorang Yahudi
periode Bait Suci Kedua, Paulus tentu sudah tidak asing dengan ide Allah sebagai Bapa
yang biasa dituliskan dalam literatur Yahudi masa intertestamen.
Sastra Intertestamental24
Surat Efesus
4Q502 fragmen 39
Dialah Bapa kita.
4Q572 fragmen 1
Bapaku dan Allahku, jangan serahkan
aku ke tangan bangsa-bangsa.
Tobit 13:4b
Sebab Dialah Tuhan kita dan Allah, Ia
adalah Bapa kita untuk selama-lamanya.
Sirakh 23:44
Ya Tuhan, Bapa dan Allah hidupku,
jangan memberi aku mata yang angkuh.
Efesus 1:2-3
Kasih karunia dan damai sejahtera dari
Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus
menyertai kamu.
Efesus 1:3
Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus
Kristus yang dalam Kristus telah
mengaruniakan kepada kita segala berkat
rohani di dalam sorga.
Efesus 5:20
Ucaplah syukur senantiasa atas segala
sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus
Kristus kepada Allah dan Bapa kita.
Tabel 1. Perbandingan tentang Allah Sekaligus Bapa
Paulus sering menghubungkan ‘Allah’ dengan ‘Bapa’ dalam Surat Efesus. Tabel di atas
menunjukkan kesamaan antara Surat Efesus dengan beberapa literatur Yahudi di masa
intertestamental, yakni sama-sama menyebut Allah sebagai Bapa. Bukan hanya itu,
keduanya juga menonjolkan hubungan yang dekat antara umat dengan Allah seperti anak
dengan bapanya sehingga Allah yang disembah bukanlah sosok yang jauh dan asing.
Penambahan kata ganti milik ‘ku’ atau ‘kita’ di belakang kata ‘Bapa menegaskan hal
tersebut. Hubungan seintim ini merupakan bagian dari doktrin adopsi yang diyakini
Yahudi dan kekristenan seperti nampak melalui tabel di bawah ini.
Sastra Intertestamental
Surat Efesus
4Q504 kolom III
Engkau telah menciptakan kami untuk
kemuliaan-Mu dan menjadikan kami anak-
anak-Mu di mata semua bangsa. Sebab
Engkau menamai Israel 'Anakku, anak
sulungku', dan Engkau menghukum kami
seperti seseorang mendera anaknya.
Yobel 1:24
Jiwa mereka akan melekat pada-Ku dan pada
semua perintah-Ku. Mereka akan
melaksanakan perintah-perintah-Ku. Aku
akan menjadi Bapa mereka dan mereka akan
menjadi anak-anakku.
Efesus 1:5-6
Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari
semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi
anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan
kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih
karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-
Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-
Nya.
Tabel 2. Perbandingan Konsep Adopsi oleh Bapa
Sastra Intertestamental Yahudi dan Surat Efesus di atas sama-sama memuat frasa
‘menjadi anak-anak’ yang menegaskan konsep adopsi. Namun ada perbedaan yang tebal
23
Bernice Brijan, “Avi We-Elohi: The Divine Father in Pre-Christian Judaism” (Amsterdam,
2014), 23. Misalnya dalam 4Q372 terdapat frasa “Bapaku dan Allahku” dalam pembukaan doa; juga
dalam 1QH terdapat pernyataan “Allah adalah Bapa bagi semua anak-anak kebenaran.”
24
Geza Vermes, The Complete Dead Sea Scrolls in English (London: Penguin Books, 2004).
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya, Vol 7, No 1 (Pebruari 2024)
Copyright© 2024; Logon Zoes, e-ISSN 2745-3766 | 36
di antara keduanya, di mana sastra Yahudi memahami umat Israel saja yang diadopsi
menjadi anak-anak. Flavius Josephus, seorang penulis apologetik Yahudi abad 1 menulis
dalam Antiquitates Iudaicae 5:93 bahwa Allah adalah Bapa bagi bangsa Yahudi.
25
Sedangkan Paulus menegaskan bahwa oleh Kristus, segala suku bangsa dapat diadopsi
menjadi anak-anak Allah Bapa di dalam sebuah komunitas baru yang disebut gereja.
Perbedaan terletak pada siapa yang menjadi anggota komunitas. Jemaat di Asia Kecil
yang berlatarbelakang Yahudi dibaharui konsepnya sedangkan jemaat berlatarbelakang
non-Yahudi dihiburkan hatinya karena masuk ke dalam komunitas umat Allah.
Hal kedua yang bisa diperhatikan adalah karakter Bapa. Beberapa karakter Bapa
yang ditunjukkan meliputi: pemurah (1:3; 2:8), penyelamat (1:3-14), pengasih (1:5-6;
2:4-6), mulia (1:6,12,14,17; 3:16,21), pengampun (1:7; 4:32), perencana (1:9-10; 2:10),
berdaulat (1:11; 4:6), berkuasa (1:19-20; 3:20), imanen (2:19-22), murka (5:6).
Kemurahan Bapa ditunjukkan dengan mengaruniakan segala berkat rohani di dalam
surga (1:3) dan mengaruniakan keselamatan melalui kematian Kristus (2:8). Sifat
penyelamat dibuktikan dengan karya keselamatan bagi umat manusia yang melibatkan
Allah Tritunggal (1:3-14). Kasih Bapa dibuktikan dengan menentukan seseorang menjadi
anak-Nya (1:5-6) dan dilimpahkan dengan memberi hidup kekal (2:4-6). Sifat-Nya yang
mulia dijelaskan melalui sasaran dari karya keselamatan yakni puji-pujian yang terlantun
dari orang percaya bagi kemuliaan-Nya (1: 6,12,14), melalui sebutan-Nya sebagai ‘Bapa
yang mulia’ (1:17), melalui penguatan dan peneguhan orang percaya (3:16), dan melalui
pujian karena kuasa-Nya dalam mengabulkan doa (3:21). Bapa juga memiliki sifat
pengampun sebagaimana nyata melalui karunia pengampunan dosa melalui darah
Kristus (1:7) dan pengampunan-Nya menjadi dasar seseorang bisa mengampuni orang
lain (4:32). Allah Bapa juga seorang perencana handal, yang digenapi di dalam Kristus
sesuai waktu yang ditentukan (1:9-10) dan mempersiapkan pekerjaan baik untuk
dilakukan orang yang telah diselamatkan (2:10). Kedaulatan Bapa tampak di mana segala
sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya (1:11) sehingga tidak ada sesuatu
yang terjadi di luar keinginan-Nya dan kedaulatan-Nya dinyatakan melalui supremasi-
Nya sebagai Allah di atas semua, oleh semua, dan di dalam semua (4:6). Sebagai Bapa, Ia
juga memiliki kuasa yang dinyatakan dalam kebangkitan Kristus dari antara orang mati
(1:19-20) dan dinyatakan juga dengan melakukan jauh lebih banyak dari yang didoakan
atau dipikirkan orang percaya (3:20). Terlepas dari segala keunggulan-Nya tersebut,
Bapa adalah Pribadi yang imanen/dekat dengan umat-Nya, sebab orang yang ditebus
oleh darah Kristus menjadi keluarga-Nya, bait-Nya, dan tempat kediaman-Nya (2:19-20).
Namun, Bapa juga bisa murka ketika penyesatan terjadi dengan kata-kata yang kosong
(5:6). Demikianlah dapat dilihat bahwa konsep Allah sebagai Bapa bukanlah konsep yang
asing bagi orang Kristen berlatar belakang Yahudi periode Bait Suci Kedua, sebab
literatur intertestamen mengajarkan gagasan tersebut.
Tuhan Yesus Kristus
Tidak diragukan lagi bahwa Yesus adalah pusat pemberitaan dan pengajaran Paulus
sehingga Yesus akan ditemukan begitu banyak dalam tulisan Paulus, termasuk dalam
25
Mladen Popović, “God the Father in Flavius Josephus,” in The Divine Father: Religious and
Philosophical Conceptsof Divine Parenthood in Antiquity, ed. Felix Albrecht and Reinhard Feldmeier
(Leiden, Boston: Koninklijke Brill NV, 2014), 191.
Paulus D. Prabowo: Warisan Sastra Intertestamental Yahudi
Copyright© 2024; Logon Zoes, e-ISSN 2745-3766 | 37
surat Efesus. Terdapat terdapat gelar keilahian Yesus yang ditunjukkan Paulus di dalam
surat Efesus, yakni Kristus (χριστός), Tuhan (κύριος), dan Anak Allah (υἱοῦ το θεοῦ).
Ketiga istilah tersebut juga muncul dalam sastra intertestamental Yahudi. Karena Paulus
memiliki latar belakang Yahudi periode Bait Suci Kedua, maka gelar keilahian yang
Paulus kaitkan dengan Yesus harus dilihat dengan mempertimbangkan konsep mesianik
Yahudi abad pada masa intertestamental melalui sastra ditulis pada masa itu.
Pemahaman orang Yahudi abad 1 tentang Mesias dipengaruhi secara kuat oleh sastra
intertestamental tersebut.
Gelar ‘Kristus’ muncul cukup banyak di dalam surat Efesus dengan bentuk χριστὸς
(6 kali), χριστῷ (16 kali), χριστοῦ (22 kali), dan χριστόν (4 kali). Kristus adalah bahasa
Yunani untuk Mesias yang berarti ‘seseorang yang diurapi.’
26
Ketika Paulus menyebut
nama ‘Kristus’ maka ia berbicara tentang Mesias yang menjadi pengharapan orang
Yahudi. Pengharapan mesianik berakar sejak Perjanjian Lama di mana akan ada
keturunan Daud yang memerintah Israel. Namun beberapa sastra intertestamental perlu
dilihat untuk mengerti konsep Mesias orang Yahudi periode Bait suci Kedua. Seringkali,
orang Yahudi menyebutkan Kristus(Mesias) dan Tuhan secara bersamaan.
Sastra Intertestamental
Surat Efesus
Mazmur Salomo 17:32
Dan Dia akan menjadi raja yang adil atas
mereka, diajar oleh Allah. Tidak akan ada
kefasikan di antara mereka pada
zamannya, karena semuanya akan
menjadi kudus, dan raja mereka adalah
Tuhan Mesias.
Mazmur Salomo 18:7
Di bawah didikan Mesias Tuhan, dalam
takut akan Allahnya, dalam hikmat roh,
dan dalam rasa hormat, kebenaran dan
kekuatan.
Efesus 1:3
Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus
Kristus yang dalam Kristus telah
mengaruniakan kepada kita segala berkat
rohani di dalam sorga.
Efesus 1:17
Dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus
Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia
memberikan kepadamu Roh hikmat dan
wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.
Tabel 3. Perbandingan Sebutan Kristus (Mesias) dan Tuhan
Tabel di atas menunjukkan perbandingan sebutan Kristus (Mesias) dan Tuhan antara
sastra intertestamental dan Surat Efesus, tetapi tidak semua dokuman dan ayat
dicantumkan. Kitab Mazmur Salomo, sebuah kitab Apokrifa dari abad 2-1 SM,
menyebutkan frasa Κύριος Μεσσίας dalam 17:32 dan 18:7. Mesias disebut juga sebagai
Tuhan. Konteks pasal 17 menjelaskan Mesias sebagai raja dari dinasti Daud yang akan
menyelamatkan Yerusalem dari serangan bangsa-bangsa bukan Yahudi lalu memerintah
dengan adil (17:1-46). Dalam pasal 18, Κύριος Μεσσίας dicantumkan lagi sebagai sosok
yang menyucikan umat Israel dan membimbing mereka ke dalam kebenaran (18:1-12).
Efesus 1:3-4 mirip dengan Mazmur Salomo 17:32, bahwa kehadiran Kristus (Mesias)
akan menguduskan umat Allah. Sedangkan Efesus 1:17 mirip dengan Mazmur Salomo
18:7 yang mengaitkan Kristus (Mesias) dengan roh hikmat dan kebenaran.
Orang-orang Yahudi dari periode Bait Allah Kedua memahami Mesias secara
imamat rajani. Sebagian kecil contohnya dapat dilihat dalam tabel berikut, yang secara
jelas mengaitkan Mesias dengan penebusan (imam) dan kepemimpinan (raja).
26
Danker, A Greek-English Lexicon Of The New Testament And Other Early Christian Lietrature,
BibleWorks, v.9.
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya, Vol 7, No 1 (Pebruari 2024)
Copyright© 2024; Logon Zoes, e-ISSN 2745-3766 | 38
Sastra Intertestamental
Surat Efesus
4Q541 fragmen 9
Dia akan menebus semua anak-anak di
zaman-Nya dan akan diutus kepada
semua anak-anak dari umat-Nya
1QSa kolom 2
Ketika Allah memunculkan Mesias-Imam,
Dia akan datang bersama mereka
sebagai Pemimpin seluruh jemaah Israel
Efesus 1:7
Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita
beroleh penebusan, yaitu pengampunan
dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya.
Efesus 1:22
Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di
bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-
Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari
segala yang ada.
Tabel 4. Perbandingan Peran Kristus (Mesias) sebagai Raja dan Imam
Teks-teks Qumran memberikan informasi mengenai pengharapan mesianik orang
Yahudi. Dalam 4Q541 fragmen 9 dijelaskan bahwa Mesias-Imam akan datang menebus
umat-Nya dan melenyapkan kegelapan dengan terang-Nya yang abadi.
27
Namun tidak
begitu jelas bagaimana cara penebusannya. Dokumen tersebut mirip dengan Efesus 1:7
yang menjelaskan penebusan yakni pengampunan dosa melalui peran keimaman Yesus
Kristus yang memakai darah-Nya sebagai sarana penebusan. Penebusan yang dimaksud
bernuansa ritual persembahan korban dalam ibadah Yahudi. Gagasan Mesias sebagai
imam juga bisa dijumpai dalam 4Q541, 1 Makabe 14:41, dan Perjanjian Lewi 18:2.
28
Sedangkan dalam 1QSa kolom 2 yang menyebut bahwa Mesias akan datang memerintah
seluruh jemaah Israel bahkan di kolom tersebut Mesias juga disebut sebagai Sang
Imam.
29
Bagian ini mirip dengan Efesus 1:22 yang menegaskan pemerintahan Yesus
Kristus atas jemaat-Nya yakni gereja melalui istilah ‘Kepala.’ Kitab 1 Henokh khususnya
dalam pasal 37-71 menambahkan, Mesias merupakan pre-existent being dan
memerintah di kerajaan eskatologis.
30
Sifat pra-eksistensi Yesus Kristus ditunjukkan oleh
Paulus dalam Efesus 1:4,5,9,11 dan 2:10 sedangkan pemerintahan eskatologis-Nya
dinyatakan dalam Efesus 1:21. Teks Qumran 4Q175 “Testimonia or Messianic Anthology
barangkali menjadi sastra intertestamental Yahudi yang secara bersamaan mengulas
Mesias Raja dan Imam dalam satu dokumen. Teks tersebut terdiri dari beberapa bagian;
bagian pertama terdiri dari dua teks dari Ulangan yang mengacu pada nabi mirip Musa,
bagian kedua adalah kutipan dari nubuat Bileam tentang Mesias-Raja, dan bagian ketiga
adalah berkat dari orang Lewi dan secara tersirat dari Mesias-Imam.
31
Beberapa sastra
intertestamental Yahudi menjelaskan Mesias sebagai raja abadi dan imam penebus.
Paulus menyebut Yesus Kristus sebagai Anak Allah hanya 1 kali dalam Efesus 4:13.
Sastra intertestamental Yahudi juga mengaitkan Mesias dengan Anak Allah, misalnya
saja 1 Henokh 105:2; 4Q246 kolom 2; 1QSa 2:11-12; 4Q174; 4Q369; 4 Ezra 7:28-29;
13:37, 52; 14:9. Dua naskah dijadikan contoh melalui tabel di bawah ini.
27
Teks Qumran 4Q541 dengan terjemahan Bahasa Inggris dapat dilihat dalam Vermes, The
Complete Dead Sea Scrolls in English, 56162.
28
Alexander Tarasenko, “The Messiah’s Portrait in the Literature of the Second Temple
Period,” Theological Reflections 11 (2010): 50.
29
Teks Qumran 1QSa dengan terjemahan Bahasa Inggris dapat dilihat dalam Vermes, The
Complete Dead Sea Scrolls in English, 16162.
30
Jordan Kassabaum, “‘Who Do You Say I Am?’: Second Temple Messianism and the Historical
Jesus,” Journal of Undergraduate Research 15, no. 1 (2013): 2.
31
Vermes, The Complete Dead Sea Scrolls in English, 52728.
Paulus D. Prabowo: Warisan Sastra Intertestamental Yahudi
Copyright© 2024; Logon Zoes, e-ISSN 2745-3766 | 39
Sastra Intertestamental
Surat Efesus
Qumran 4Q246 kolom 2
Dia akan disebut sebagai Anak Allah dan
mereka akan menyebutnya sebagai Anak
Yang Maha Tinggi.
4 Ezra 7:29
Dan setelah tahun-tahun ini, putra-Ku,
sang Mesias akan mati, dan semua yang
memiliki nafas manusia.
Efesus 4:13
sampai kita semua telah mencapai kesatuan
iman dan pengetahuan yang benar tentang
Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat
pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan
Kristus.
Tabel 5. Perbandingan Sebutan Kristus (Mesias) dan Anak Allah
Dokumen 4Q246 merupakan sastra apokaliptik berbahasa Aram yang mengaitkan Anak
Allah dengan kerajaan dan pemerintahan yang kekal, yang akan menghakimi bumi
dengan keadilan.
32
Istilah ‘Anak Allah’ disebut satu kali di kolom 2. Figur tersebut
dikaitkan dengan Mesias
33
dengan pertimbangan banyaknya kemiripan dengan
beberapa bagian 4Q246 dengan Kitab Daniel dan Injil Lukas. Penyebutan ‘Anak Allah’
oleh Paulus dalam Efesus 4:13 dikaitkan dengan Kristus (Mesias ) sebagaiKepala’ di ayat
15. Sedangkan 4 Ezra 7:29 tidak secara eksplisit mencantumkan istilah ‘Anak Allah’ tetapi
mencantumkan frasa ‘putra-Ku, Sang Mesias’ yang mengaitkan Anak Allah dengan Mesias
seperti 4Q246. Uniknya, Anak Allah dalam 4 Ezra dinubuatkan akan mati. Konsep Yahudi
di masa intertestamental tentang Mesias yang akan mati hanya dijumpai dalam 4 Ezra
saja. Namun, kematian Mesias dalam pikiran orang Yahudi tidak ada kaitannya dengan
penderitaan untuk penebusan. Mowinckel menjelaskan bahwa penafsiran Targum
Yahudi terhadap Yesaya 53:12 memahami penderitaan Mesias sebagai bahaya dan
pertaruhan nyawa dalam peperangan melawan musuh-musuh Israel yang kafir.
34
Penderitaan tersebut dimaknai sebagai sesuatu yang heroik, bukan seperti Yesus orang
Nazaret yang ditangkap dan pasrah seperti penjahat. Teologi retribusi orang Yahudi
menganggap penderitaan semacam itu sebagai kutukan, sehingga mereka tidak akan
percaya jika Mesias mengalaminya. Namun Paulus menegaskan dalam Surat Efesus
bahwa Yesus orang Nazaret adalah Mesias yang tersalib dan mencurahkan darah-Nya
bagi penebusan (Ef. 1:7; 2:15-16; 5:25-26). Ringkasnya, gagasan tentang Mesias bagi
orang-orang Yahudi Bait Suci Kedua dalam periode intertestamental adalah sebagai Raja
sekaligus Imam yang akan mengalami kematian.
Berdasarkan data-data dari sastra intertestamental Yahudi, jelas bahwa gelar
Kristus, Tuhan, dan Anak Allah bagi Yesus di surat Efesus memiliki kesamaan tetapi juga
ada perbedaan dalam hal anggota umat Allah, sarana korban penebusan, serta cara dan
tujuan kematian-Nya. Paulus kemungkinan besar dipengaruhi sumber-sumber tersebut
dalam pemikirannya. Namun, Paulus juga memahami Mesias sebagai Kepala (κεφαλ).
Tampaknya gelar tersebut menunjukkan superioritas dan status yang tinggi
35
sehingga
mendukung gagasan Kristus (Mesias) sebagai Pemimpin kosmik yang mengatasi segala
32
Vermes, The Complete Dead Sea Scrolls in English, 618.
33
Tucker S. Ferda, “Naming the Messiah: A Contribution Tothe 4Q246 ‘Son of God’ Debate,”
Dead Sea Discoveries 21 (2014): 15075; Vermes, The Complete Dead Sea Scrolls in English, 617.
34
Sigmund Mowinckel, He That Cometh: The Messiah Concept in the Old Testament and Later
Judaism (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans Publishing Company, 2005), 328.
35
Danker, A Greek-English Lexicon Of The New Testament And Other Early Christian Lietrature,
BibleWorks, v.9.
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya, Vol 7, No 1 (Pebruari 2024)
Copyright© 2024; Logon Zoes, e-ISSN 2745-3766 | 40
sesuatu. Penganut Yudaisme tentu meraba-raba siapa Mesias yang dimaksud. Perlu
dicatat bahwa sastra intertestamental Yahudi hanya menunjukkan ‘personalitas’ Mesias,
sedangkan Paulus menunjukkan ‘persona’ Mesias, yaitu Yesus. Paulus menegaskan
bahwa Yesus yang disalibkan adalah Mesias Raja yang memerintah dan Mesias Imam
yang menebus. Konsep Mesias Raja tampak dalam beberapa ayat yang menyinggung
pemerintahan, seperti: 1) 1:18-22 di mana kedudukan Yesus Kristus jauh lebih tinggi dari
segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan yang dapat disebut, baik
di dunia saat ini saja maupun di dunia yang akan datang, bahkan segala sesuatu sudah
diletakkan di bawah kaki-Nya; 2) 4:15 & 5:23 tentang Yesus sebagai Kepala jemaat, yang
menunjukkan otoritas-Nya atas jemaat baik Yahudi dan non-Yahudi; 3) 2:2, 6:12 tentang
penguasa jahat di udara, yaitu kerajaan kegelapan yang merupakan oposisi dari kerajaan
Mesias. Jelas bahwa gelar Kristus di surat Efesus kental dengan nuansa kerajaan
mesianik. Sedangkan konsep Mesias Imam nampak beberapa ayat seperti: 1) 1:7-8 di
mana Kristus mengadakan penebusan dengan darah-Nya bagi pengampunan dosa, suatu
gagasan yang sarat dengan ritual korban; 2) 2:13-18 tentang darah Kristus yang
membawa pendamaian (13-16) dan Ia menjadi perantara umat kepada Allah (17-18); 3)
5:25-27 tentang Kristus yang memberi Diri sebagai korban untuk menguduskan jemaat-
Nya, dan pada bagian ini istilah dalam ritual korban Yahudi kembali dipakai. Demikianlah
presentasi Paulus mengenai Yesus sebagai Kristus, Tuhan, dan Anak Allah yang memiliki
kemiripan dengan beberapa sastra intertestamental Yahudi.
Roh Kudus
Istilah Roh Kudus atau Roh (πνεῦμα) digunakan dalam surat Efesus secara teologis di
dalam nas 1:13-14; 2:18,22; 3:5,16; 4:3-4,30; 5:18; 6:17-18. Di dalam Perjanjian Lama
istilah ‘Roh Kudus’ hanya muncul 3 kali dalam Mazmur 51:13; Yesaya 63:10 & 11. Namun
penyebutan Roh’ sebagai keberadaan ilahi muncul kurang lebih sebanyak 123 kali di
dalam Perjanjian Lama.
36
Istilah tersebut tidak hanya dijumpai dalam Perjanjian Lama
saja. Beberapa sastra intertestamental Yahudi juga memuat tentang Roh Kudus, misalnya
dalam 1QH 4:26, 1QH 12:11, 1QH 13:18, 1QH 14:12, 1QH 15:6-7, 1QH 17:32-36, 1QSb
5:24-25, 1QS 8:14-16, 4Q265 fragmen 7, 4QSd 6, CD vii 3, 4 Ezra 14:22, Yobel 1:21,
Mazmur Salomo 17:38-42, Zadok 2:10, Perjanjian Yehuda 24:1-3, Kitab Kebijaksanaan
9:17, dan lain sebagainya. Beberapa bagian yang mirip dengan ajaran tentang Roh Kudus
dalam Surat Efesus ditunjukkan melalui tabel 6 di bawah. Kesamaan antara 1 QH himne
15 & 20 dengan Efesus 1:13 & 3:16 adalah bahwa Roh Kudus diberikan di dalam diri umat
Allah dan salah satu tugasnya menguatkan. Roh Kudus dalam pikiran orang Yahudi
periode Bait Suci Kedua bukanlah kuasa yang sekadar ‘menghinggapi di atas’ seseorang
seperti yang diajarkan dalam teologi sistematika khususnya pneumatologi , tetapi
Pribadi yang ‘berdiam di dalam’ seseorang.
36
Jiri Moskala, “The Holy Spirit in the Hebrew Scriptures,” Journal of the Adventist Theological
Society 24, no. 2 (2013): 24.
Paulus D. Prabowo: Warisan Sastra Intertestamental Yahudi
Copyright© 2024; Logon Zoes, e-ISSN 2745-3766 | 41
Sastra Intertestamental
Surat Efesus
1 QH himne 20
Aku, Sang Tuan, mengenal Engkau ya
Tuhanku, oleh Roh yang telah Engkau
berikan di dalamku, dan oleh Roh Kudus-
Mu aku mendengarkan dengan setia
nasihat-Mu yang luar biasa.
1QH himne 15
Aku bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan,
karena Engkau telah menguatkan aku
dengan kekuatan-Mu, dan Engkau telah
melimpahkan Roh Kudus-Mu kepadaku,
supaya aku tidak goyah.
Efesus 1:13
Di dalam Dia kamu juga karena kamu telah
mendengar firman kebenaran, yaitu Injil
keselamatanmu di dalam Dia kamu juga,
ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan
Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.
Efesus 3:16
Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan
kemuliaan-Nya, menguatkan & meneguhkan
kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu.
Tabel 6. Perbandingan Konsep Roh Kudus
Namun konsep Roh Kudus orang-orang Yahudi periode Bait Suci Kedua tidak
sebatas itu. Bruce mencatat bahwa dalam teks-teks Qumran, ada tujuh sifat Roh Kudus,
yakni membedakan dua macam roh (baik dan jahat), mendorong nubuatan, sumber
pengetahuan, pembimbing dan pelindung, pembersih dari dosa, dapat tercemar oleh
dosa, dan berdiam di dalam komunitas suci.
37
Orang-orang Yahudi dari periode Bait Suci
Kedua sudah familiar dengan keberadaan Roh Kudus sebagai Pribadi.
Konsep pneumatologi yang Paulus sajikan dalam surat Efesus nampaknya memiliki
sedikit perbedaan dengan konsep yang Qumran berikan. Dalam 1:13-14 Roh Kudus
adalah meterai dan jaminan keselamatan dan tanda seseorang milik Tuhan.
38
Mereka
yang menjadi milik Tuhan masuk ke dalam komunitas Allah (bdg. keluarga Allah dalam
2:19). Paulus memahami Roh Kudus sebagai pemersatu komunitas sebagai yang
dijelaskan dalam 2:18 dan 4:3-4, di mana kelompok ‘yang jauh’ dan ‘yang dekat’
(kemungkinan bangsa Yahudi dan non-Yahudi) bersatu dalam ‘satu Roh’ sama-sama
menjadi komunitas milik Allah. Dua ayat tersebut berkaitan dengan aspek ‘komunitas’
yang diajarkan Qumran perihal Roh Kudus, tetapi tidak sama persis. Masih di pasal 2,
ayat 22 menjelaskan bahwa ‘kamu’ (ὑμες plural) menjadi tempat kediaman Allah di
dalam Roh. Bagian ini nampaknya mirip dengan konsep Qumran bahwa Roh Kudus
berdiam di dalam komunitas suci. Bergerak ke 3:5, Roh Kudus dikaitkan dengan
penyataan Injil yang mengundang bangsa non-Yahudi masuk ke dalam komunitas Allah.
Bagian ini mungkin terkait konsep pneumatologis Qumran, di mana Roh Kudus
mendorong nubuatan dan menjadi sumber pengetahuan. Kemudian dalam 3:16, Roh
Kudus ada di ‘dalam hati’ orang percaya untuk menguatkan dan meneguhkan , yang mirip
dengan konsep ‘Roh Kudus yang Berdiam’ di dalam pneumatologi Qumran. Di dalam 4:30
dijelaskan bahwa Roh Kudus bisa didukakan oleh perilaku berdosa. Konsep ini juga
sedikit berbeda dengan Qumran yang menyatakan bahwa Roh Kudus bisa tercemar oleh
37
F.F. Bruce, “Holy Spirit in the Qumran Texts,” Annual of Leeds University Oriental Society 6
(1968): 4955.
38
Meterai berfungsi menandai kepemilikan (Barbara Friberg, Timothy Friberg, and Neva F.
Miller, Analytical Lexicon of the Greek New Testament (Grand Rapids: Baker, 2000), BibleWorks, v.9.)
Sedangkan kata ‘jaminan’ berasal dari kata Yunani ἀρραβών yang berarti ‘uang muka’ atau ‘uang
jaminan’ dan secara metaforis menjelaskan peran Roh Kudus sebagai penjamin keselamatan
seseorang dan keikutsertaannya sebagai umat Allah (J. H. Moulton and G. Milligan, Vocabulary of the
Greek Testament (Charleston, South Carolina: Nabu Press, 2012), 79.)
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya, Vol 7, No 1 (Pebruari 2024)
Copyright© 2024; Logon Zoes, e-ISSN 2745-3766 | 42
karena dosa. Paulus memilih kata ‘didukakan.’ Konsep Roh Kudus sebagai pembimbing
dan pelindung di dalam Qumran mirip dengan pneumatologi Paulus dalam 5:18 dan
6:17-18. Roh Kudus dalam 5:18 menjadi pembimbing sebab konsep ‘kepenuhan Roh’
menyangkut hidup mengikuti kehendak dan bimbingan Allah. Sedangkan Roh Kudus
dalam 6:17-18 menjadi pelindung karena Ia dikaitkan dengan firman Allah dan doa yang
mampu melindungi orang percaya dari serangan tipu muslihat Iblis. Dapat dilihat bahwa
Paulus memakai beberapa konsep pneumatologi Qumran secara sama persis yakni dalam
hal pendiaman Roh Kudus di dalam komunitas, dorongan nubuat, sumber pengetahuan,
serta pembimbing dan pelindung. Sedangkan sifat Roh Kudus sebagai pembeda dua
macam roh (baik dan jahat), pembersih dari dosa, dan dapat tercemar oleh dosa tidak
dipakai oleh Paulus. Namun, gagasan mengenai komunitas banyak dipakai Paulus.
Trinitas dalam Karya Keselamatan
Keberadaan Allah Bapa, Kristus (Mesias), dan Roh Kudus dapat ditemukan dalam sastra
intertestamental Yahudi, tetapi tidak ditemukan kemunculan ketiganya secara
bersamaan dalam satu dokumen. Kekristenan memahami dan meyakini bahwa ketiga
Pribadi tersebut adalah cara Allah yang Esa menyatakan Diri. Kemunculan Allah Bapa,
Kristus (Mesias), dan Roh Kudus secara bersamaan dapat dijumpai dalam beberapa
bagian di Alkitab, salah satu di dalam Surat Efesus. Secara khusus, Ketiganya muncul
dalam karya keselamatan. Namun seseorang perlu berhati-hati dalam menafsirkan cara
Allah Trinitas berkarya.
Pandangan yang populer kerap menganggap Bapa, Kristus, dan Roh Kudus berbagi
tugas yang berbeda-beda dan terpisah. Misalnya Grizzle, Gromacki, dan van Aarde yang
mengulas karya keselamatan trinitaris dalam 1:3-14, dengan mengatakan bahwa tugas
Allah Bapa adalah merencanakan/menginisiasi keselamatan dan memilih (3-6); tugas
Kristus adalah mengimplementasikan rencana Bapa dengan membeli keselamatan
seseorang melalui kematian-Nya di kayu salib (7-12); sedangkan tugas Roh Kudus adalah
melindungi keselamatan seseorang sebagai meterai (13-14).
39
Penjelasan tersebut
memberikan kesan seakan-akan setiap Pribadi bekerja secara estafet dan individual;
Bapa yang pertama, dilanjutkan oleh Kristus, dan dilanjutkan lagi oleh Roh Kudus. Secara
tidak langsung pandangan ini mereduksi konsep Trinitas yakni tiga Pribadi dalam satu
hakekat Allah, ketiganya berbeda tetapi satu. Memandang pekerjaan Allah Tritunggal
secara terpisah telah memudarkan keesaan Trinitas.
Bila dicermati dengan teliti, Efesus 1:3-14 tidak pernah memisah-misahkan karya
Allah Tritunggal dalam keselamatan. Karya keselamatan dikerjakan bersama oleh Tiga
Pribadi di waktu yang sama. Ayat 4 yang mengatakan, “Sebab di dalam Dia (Kristus) Allah
(Bapa) telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat
di hadapan-Nya.” Kata 'memilih(ἐξελέξατο) adalah kata kerja indikatif aoris orang ketiga
tunggal yang mengacu pada Allah Bapa sedangkan frasa ‘di dalam Dia’ (ἐν αὐτῷ)
mengacu pada Kristus frasa tersebut karena paralel dengan frasa ‘dalam Kristus’ (ν
χριστῷ) di ayat 3. Dalam ayat 5 dikatakan, “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari
39
T. Grizzle, Ephesians: Pentecostal Commentary Series (Dorest: Deo Publishing, 2013), 31;
Gary Gromacki, “The Plan and Power of God the Father in Ephesians,” Journal of Ministry and
Theology 19, no. 2 (2015): 9; Timothy van Aarde, “The Use of Οἰκονομία for the Missional Plan and
Purpose of God in Ephesians 1:3-14,” Missionalia 43, no. 1 (2015): 47.
Paulus D. Prabowo: Warisan Sastra Intertestamental Yahudi
Copyright© 2024; Logon Zoes, e-ISSN 2745-3766 | 43
semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan
kehendak-Nya.” Kata ‘menentukan(προορίσας) adalah kata kerja indikatif aoris orang
ketiga tunggal yang mengacu pada Allah Bapa sedangkan penggunaan preposisi δι yang
diikuti genitif dalam frasa ‘oleh Yesus Kristus’ menunjukkan fungsi kausal di mana Yesus
Kristus memiliki peran sebagai ‘intermediate agent of an action’ (agen perantara sebuah
tindakan).
40
Oleh sebab itu, pemilihan (election) dan penentuan (predestination) tidak
dikerjakan oleh Bapa seorang diri saja, tetapi oleh Bapa dan Kristus secara bersama-
sama. Unsur kolektivitas terkandung di dalam gagasan ini.
Pasal 1:7-12 juga menunjukkan kolektivitas karya penebusan dan bukan
dikerjakan Kristus seorang diri. Menurut penulis, kata ‘kasih karunia-Nya’ (ay. 7),
dilimpahkan-Nya (ay. 8), kehendak-Nya (ay. 9, 11), rencana kerelaan-Nya (ay. 9),
ditetapkan-Nya (ay. 9), dan kemuliaan-Nya terkait dengan Bapa dan Kristus lagi-lagi
berperan sebagai intermediate agent of an action yang nampak melalui frasa ‘di dalam
Dia dan oleh darah-Nya’ (ay. 7) dan di dalam Kristus/Dia (ay. 9,10,11). Terlihat jelas
bahwa yang mengambil peran dalam karya penebusan bukan hanya Kristus, tetapi juga
Bapa. Kemudian di dalam 1:13-14 kolektivitas karya keselamatan juga diperlihatkan.
Ayat 13 menuliskan, Di dalam Dia kamu juga karena kamu telah mendengar firman
kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya,
dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.” Frasa ‘di dalam Dia’ (ἐν )
mengacu pada Kristus seperti di ayat-ayat sebelumnya. Pribadi Roh Kudus juga disebut
melalui frasa ‘dimeteraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikan-Nya itu’ yang teks
Yunaninya adalah ἐσφραγίσθητε τῷ πνεύματι τῆς ἐπαγγελίας τῷ ἁγίῳ. Seringkali Roh
Kudus disebut sebagai subjek yang memeteraikan orang percaya.
41
Bahkan Efesus 4:30
versi LAI menuliskan: “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah
memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Terjemahan ini memberi kesan
seakan Roh Kudus yang bertindak untuk memeteraikan. Baik 1:13 maupun 4:30 tidak
menyebutkan Roh Kudus sebagai subjek yang memeteraikan. Frasa τῷ πνεύματι di
dalam 1:13 merupakan dative of means
42
yang menjelaskan bahwa secara figuratif Roh
Kudus sendirilah meterainya. Hal ini didukung ayat 14 yang berbunyi ἐστιν ἀρραβὼν
(Dia adalah jaminan). Teks Yunani 4:30b adalah ν ἐσφραγίσθητε ες ἡμέραν
ἀπολυτρώσεως. Kata ἐσφραγίσθητε juga dipakai dalam 1:13 dengan bentuk yang sama
yakni kata kerja aoris pasif indikatif, sehingga terjemahan yang cocok adalah ‘Dengan-
Nya (Roh Kudus) kalian dimeteraikan untuk hari penebusan.” Jadi bila dirumuskan,
konsep pemeteraian di ayat 13-14 adalah bahwa ‘Bapa memeteraikan orang percaya
dengan Roh Kudus di dalam Kristus.’ Tampak aspek kolektivitas di dalamnya.
Konsep rekonsiliasi dalam 2:18 melibatkan Allah Tritunggal dengan menyebutkan,
“karena oleh Dia (Kristus) kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada
Bapa.” Pasal 2:22 menunjukkan karya Trinitas dalam membangun orang percaya sebagai
tempat kediaman Allah dengan mengatakan: “Di dalam Dia (Kristus) kamu juga turut
40
Friberg, Friberg, and Miller, Analytical Lexicon of the Greek New Testament, BibleWorks, v.9.
41
Pandangan ini didasari anggapan bahwa τ πνεύματι adalah dative of agency, padahal
menurut Wallace syarat dative of agency adalah harus terkait dengan kata kerja pasif perfek,
sementara Efesus 1:13 tidak mencantumkan jenis kata kerja tersebut Daniel B. Wallace, Greek
Grammar Beyond the Basics: An Exegetical Syntax of the New Testament with Scripture, Subject, and
Greek Word Indexes (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Academic, 1997), 165.
42
Wallace, 175.
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya, Vol 7, No 1 (Pebruari 2024)
Copyright© 2024; Logon Zoes, e-ISSN 2745-3766 | 44
dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah (Bapa), di dalam Roh.Doa Paulus dalam
3:1417 menjelaskan bahwa ia sujud kepada Bapa (ay. 14) supaya Bapa menguatkan dan
meneguhkan orang percaya oleh Roh-Nya di dalam batin mereka sehingga Kristus
berdiam di dalam hati. Bergerak ke 4:4-6, dalam membahas mengenai kesatuan jemaat
Paulus mencantumkan frasa satu Roh, satu Tuhan (Kristus, bdg. 1:1), serta satu Allah dan
Bapa. Terakhir, dalam 5:1820 Paulus mengaitkan hidup dipenuhi Roh dengan memuji
Tuhan, mengucap syukur kepada Bapa di dalam Yesus Kristus. Ayat-ayat yang disebut
dalam subbagian ini menunjukkan kolektivitas Allah Tritunggal dalam karya-Nya
maupun keterlibatan-Nya dalam pertumbuhan jemaat. Trinitas yang ditampilkan ialah
tiga Pribadi dalam satu hakekat keallahan, yang mengerjakan segala sesuatu secara
kolektif dan bersamaan, tidak terpisah-pisah dan tidak terbagi.
KESIMPULAN
Segala pemaparan di atas bermuara pada satu kesimpulan, bahwa sastra
intertestamental Yahudi memberikan warisan terhadap doktrin Trinitas di dalam Surat
Efesus berupa konsep Allah sebagai Bapa, pengangkatan umat sebagai anak Allah
(adopsi), Mesias sebagai Tuhan dan Anak Allah, peran Mesias Raja dan Mesias Imam,
Mesias yang mati, serta konsep Roh Kudus yang berdiam di dalam komunitas, memberi
dorongan nubuat, serta sebagai sumber pengetahuan, pembimbing dan pelindung. Di
antara banyak kesamaan ini, tetap saja ada perbedaan mencolok. Pertama, Paulus telah
memahami bahwa tiga Pribadi Ilahi di dalam sastra intertestamental Yahudi adalah Allah
yang menyatakan Diri dalam Tiga Pribadi. Kedua, Paulus menegaskan bahwa Mesias
yang diharapkan orang Yahudi sudah datang ke bumi, yakni Yesus. Ketiga, Paulus
menyuarakan konsep bahwa umat Allah yang diangkat sebagai anak bukan hanya orang
Yahudi saja tetapi segala bangsa yang ditebus oleh darah Yesus, yakni gereja. Keempat,
penderitaan dan kematian Mesias terjadi dalam rangka penebusan dosa, bukan perang
fisik. Banyaknya kemiripan konsep Bapa, Kristus (Mesias), dan Roh Kudus di dalam
Apokrifa, Pseudepigrafa, dan teks Qumran membuktikan bahwa pengaruh Yahudi jauh
lebih besar daripada pengaruh Yunani dalam doktrin Trinitas. Penulis menyadari bahwa
artikel ini masih memiliki kekurangan dan belum terlalu mendalam. Penelitian
berikutnya bisa mengelaborasi bagian dari sastra intertestamental Yahudi yang belum
dibahas, mengelaborasi surat-surat Paulus lain yang mengandung konsep Trinitas,
bahkan kitab Perjanjian Baru lainnya dengan bahasan yang sama.
DAFTAR PUSTAKA
Aarde, Timothy van. “The Use of Οἰκονομία for the Missional Plan and Purpose of God in
Ephesians 1:3-14.” Missionalia 43, no. 1 (2015): 4562.
“Apocalypse of Ezra (2 Esdras/4 Ezra),n.d. https://john-
uebersax.com/plato/4Ezra7.htm.
Barth, Markus. “Traditions in Ephesians.” New Testament Studies 30, no. 1 (1984): 325.
Beckwith, Roger. “Intertestamental Judaism, Its Literature and Its Significance.”
Themelios 15, no. 3 (1990): 7781.
Bock, Darrell L. Ephesians: An Introduction and Commentary. Downers Grove, IL:
InterVarsity Press, 2019.
Brijan, Bernice. “Avi We-Elohi: The Divine Father in Pre-Christian Judaism.” Amsterdam,
2014.
Paulus D. Prabowo: Warisan Sastra Intertestamental Yahudi
Copyright© 2024; Logon Zoes, e-ISSN 2745-3766 | 45
Bruce, F.F.Holy Spirit in the Qumran Texts.” Annual of Leeds University Oriental Society
6 (1968): 4955.
———. “St. Paul in Rome: 4. The Epistle to the Ephesians.” Bulletin of the John Rylands
Library, 1967, 30322.
Daliman, Muner. “Peran Allah Tritunggal Dalam Karya Keselamatan: Sebuah Refleksi
Teologis Efesus 1:3–14.” Immanuel: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 4, no. 1
(2023): 20921.
Danker, Frederick William. A Greek-English Lexicon Of The New Testament And Other
Early Christian Literature. Chicago: The University of Chicago Press, 2000.
Ferda, Tucker S. “Naming the Messiah: A Contribution Tothe 4Q246 ‘Son of God’
Debate.” Dead Sea Discoveries 21 (2014): 15075.
Foundation, The Lockman. “Psalm of Solomon,” n.d. https://qbible-
com.translate.goog/brenton-septuagint/psalms-of-solomon.
Friberg, Barbara, Timothy Friberg, and Neva F. Miller. Analytical Lexicon of the Greek
New Testament. Grand Rapids: Baker, 2000.
Golea, Gabriel. “The New Perspective On Paul: An Objectiveally Or A Real Challenge For
Understanding The Pauline Statements On The Law?” Cernica, 2011.
Grizzle, T. Ephesians: Pentecostal Commentary Series. Dorest: Deo Publishing, 2013.
Gromacki, Gary. “The Plan and Power of God the Father in Ephesians.Journal of
Ministry and Theology 19, no. 2 (2015): 952.
Helyer, Larry. “The Necessity, Problems, And Promise Of Second Temple Judaism For
Discussions Of New Testament Eschatology.” JETS 47, no. 4 (2004): 597615.
Hort, F.J.A. Prolegomena to St Paul’s Epistles to the Romans and the Ephesians. New York:
Cambridge University Press, 2009.
Kassabaum, Jordan. “‘Who Do You Say I Am?’: Second Temple Messianism and the
Historical Jesus.” Journal of Undergraduate Research 15, no. 1 (2013): 15.
Leighton, Matthew B. “‘MOSAIC COVENANT’ AS A POSSIBLE REFERENT FOR ΝΟΜΟΣ IN
PAUL.” Tyndale Bulletin 69, no. 2 (2018): 16181.
Maguire, Moira, and Brid Delahunt. “Doing a Thematic Analysis: A Practical, Step-by-
Step Guide for Learning and Teaching Scholars.” AISHE-J 8, no. 3 (2017): 114.
Moskala, Jiri. “The Holy Spirit in the Hebrew Scriptures.” Journal of the Adventist
Theological Society 24, no. 2 (2013): 1858.
Moulton, J. H., and G. Milligan. Vocabulary of the Greek Testament. Charleston, South
Carolina: Nabu Press, 2012.
Mowinckel, Sigmund. He That Cometh: The Messiah Concept in the Old Testament and
Later Judaism. Grand Rapids, Michigan: Eerdmans Publishing Company, 2005.
Murdiyanto, Eko. Penelitian Kualitatif: Teori Dan Aplikasi Disertai Contoh Proposal.
Yogyakarta: Lembaga Penelitian & PkM UPN ”Veteran” Yogyakarta Press, 2020.
Popović, Mladen. “God the Father in Flavius Josephus.” In The Divine Father: Religious
and Philosophical Conceptsof Divine Parenthood in Antiquity, edited by Felix
Albrecht and Reinhard Feldmeier, 181200. Leiden, Boston: Koninklijke Brill NV,
2014.
Pratt, Richard. Ia Berikan Kisah-Nya. Surabaya: Momentum, 2013.
Quesinberry, Kurtes D. “A Hellenist Form Of Ephesians 1:3-14 Subject-Type Isolation
And Categorization In The Pauline Texts.” Seoul, 2010.
Reed, Annette Yoshiko. “The Modern Invention of ‘Old Testament Pseudepigrapha.’”
Journal of Theological Studies 60, no. 2 (2009): 40336.
Roberts, Mark D. Ephesians: The Story of God Bible Commentary. Grand Rapids,
Michigan: Zondervan Academic, 2016.
Santrac, Aleksandar S. “Three I Know Not What: The Influence of Greek Philosophy on
the Doctrine of Trinity.In Die Skriflig/ In Luce Verbi 47, no. 1 (2013): 17.
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya, Vol 7, No 1 (Pebruari 2024)
Copyright© 2024; Logon Zoes, e-ISSN 2745-3766 | 46
Sinyangwe, Brian. “The Trinity and Ecclesiological Foundations: An Exegetical
Theological Assessment of Ephesians 2:19-22.” Pan-African Journal of Theology 2,
no. 2 (2023): 80100.
Stead, Christopher. “The Origins of the Doctrine of the Trinity, 2.” Theology 77, no. 653
(1974): 58288.
Tarasenko, Alexander. “The Messiah’s Portrait in the Literature of the Second Temple
Period.” Theological Reflections 11 (2010): 4354.
“The Apocrypha and Pseudepigrapha of the Old Testament,” n.d.
http://www.pseudepigrapha.com/jubilees/1.htm.
Vermes, Geza. The Complete Dead Sea Scrolls in English. London: Penguin Books, 2004.
Wallace, Daniel B. Greek Grammar Beyond the Basics: An Exegetical Syntax of the New
Testament with Scripture, Subject, and Greek Word Indexes. Grand Rapids,
Michigan: Zondervan Academic, 1997.
Wijoyo, Sigit. “Kemuliaan Karya Keselamatan Allah Tritunggal: Studi Eksposisi Efesus
1:3-14.” KAPATA: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 1, no. 1 (2020): 4050.